UA-72701571-1

iklan google

Showing posts with label cerita inspiratif. Show all posts
Showing posts with label cerita inspiratif. Show all posts

Monday, 8 February 2016

Kakek yang penyabar

Pada suatu sore, Dia melihat buah pohon pepaya yang ada di depan rumahnya sudah mulai menguning pada beberapa sisi pepayanya dan siap untuk dipanen. Kakek tua tersebut berencana untuk memanen buah tersebut esok hari agar buah tersebut benar – benar matang merata. Akan tetapi, pada saat pagi tiba, kakek tua itu melihat satu buah pepayanya sudah tidak ada dan hilang dicuri orang.
Kakek tersebut tiba tiba begitu bersedih, sampai istrinya merasa heran ketika melihat suaminya begitu bersedih.

“Kenapa kamu begitu murung Cuma karena sebuah pepaya telah hilang” kata sang istri.
“bukan hal itu yang membuatku sedih” jawab sang kakek,
“aku sedih karena kepikiran, betapa sulitnya orang tersebut mengambil pepaya kita. Demi sebuah papaya, dia rela harus sembunyi – sembunyi di tengah malam agar tidak diketahui orang. Bukan hanya itu, untuk dapat memetiknya dia juga harus memanjatnya.”

“maka dari itu Bun” lanjut sang kakek, “aku akan menaruh tangga dibawah pohon pepaya kita, dan saya berharap ia datang kembali malam ini dan jika ia ingin memetik buah pepaya yang satunya lagi, dia tidak perlu memanjat dan mengalami kesulitan lagi untuk mengambil papaya itu”.Akan tetapi pada saat pagi hari, si kakek tua itu melihat pepaya yang itu masih ada dan tangganya pun masih sama persis pada saat dia letakkan kemarin. Dia tidak memindahkan tangga tersebut, dan berharap bahwa pencuri itu akan datang malam ini. Akan tetapi di pagi berikutnya, buah pepaya tersebut masih ada di atas pohon.
Pada sore hari, Ada seseorang yang datang menenteng dua buah pepaya besar bertamu kerumah Sang kakek. Sang kakek tidak kenal sedikitpun dengan tamu itu. singkat cerita, sesudah berbincang cukup lama, saat hendak ingin pamitan tamu tersebut dengan sangat menyesal mengakui kalau dialah yang sudah mencuri papaya sang kakek.

Kisah diatas mungkin hanya merupakan cerita sederhan. Akan tetapi ada manfaat yang dapat kita pelajari dari cerita tersebut yaitu tentang kesabaran, kebajikan, keikhlasan dan juga cara pandang positif terhadap kehidupan. Mampukah kita bersikap positif pada saat kita kehilangan sesuatu yang kita cintai dengan ikhlas? lalu mencari sisi baiknya dan kemudian melupakan sakitnya suatu musibah? Semoga cerita motivasi ini dapat menjadi renungan dan bermanfaat agar kita bisa hidup lebih baik dan dalam keadaan apapun dapat tetap berfikir positif

Cerita Inspirasi Gratis Seumur Hidup

Pada suatu ketika, seorang anak telah menghampiri ibunya yang sedang masak di dapur. Kemudian anak tersebut menyerahkan selembar kertas kepada ibunya. Ibunya kemudian menerima kertas itu dan kemudian langsung membaca tulisan tersebut, Ternyata kertas tersebut adalah kertas yang ditulis tangan oleh anaknya sendiri, dan berikut ini adalah isi surat tersebut:Rp. 5000 Untuk memotong rumput.

Rp. 5000 Untuk membersihkan kamar tidur minggu ini.
Rp. 3000 Untuk pergi ke toko disuruh ibu Untuk menjaga adik waktu ibu belanja Rp. 5000.
Rp. 1000 Untuk membuang sampah .
Rp. 3000 Untuk nilai yang bagus .
Rp. 3000Untuk membersihkan dan menyapu halaman .

Jadi hari ini ibu harus membayar Rp. 25000 kepada saya.Setelah membaca surat tersebut, kemudian sang ibu memandang wajah anaknya dengan penuh harap. Lalu terlintas berbagai kenangan dimasa lalu di dalam benak sang ibu. Kemudian sang ibu mengambil sebuah pulpen, lalu membalikkan kertas surat itu. dan dia menulis beberapa kalimat, setelah itu kertas tersebut dikembalikan kepada anaknya. Balasan surat yang ibunya buat untuk anaknya adalah seperti berikut ini:Biaya untuk 9 bulan ibu mengandung kamu, gratis.

Biayauntuk semua malam ibu menemani kamu, gratis.
Biaya untuk semua mainan, makanan, dan baju, gratis.
Biaya untuk membawamu ke dokter serta mengobati saat kamu sakit, dan juga mendoakan kamu, gratis.
Biaya untuk semua saat susah dan air mata dalam mengurus kamu, gratis.
Kalau dijumlahkan semua, harga cinta ibu adalah gratis.

Hai Anakku… jika kamu menjumlahkan semua yang kau kerjakan,
Maka kau akan dapati bahwa harga cinta ibu adalah GRATISSeusai membaca apa yang ditulis ibunya, sang anak langsung berlinang air mata dan kemudian menatap wajah ibunya, lalu berkata: “Ibu, aku sangat sayang ibu” kemudian ia langsung mendekap ibunya. Seketika sang ibu tersenyum haru sambil mencium rambut anaknya itu, dan berkata, ”Ibupun sayang sama kamu nak”.
Kemudian sang anak kembali mengambil pulpen, lalu menulis sebuah kata dengan huruf – huruf yang besar sambil diperhatikan ibunya. Kata itu adalah
LUNAS.

Itulah Cerita Inpirasi Gratis Seumur Hidup , kita harus pahami, bahwa seberapa besarpun apa yang kita lakukan untuk Ibu kita, tidak akan mampu membayar semua yang sudah dilakukan oleh Ibu kita terhadap kita. Kita tidak akan mampu untuk membayar hutang kita terhadap Ibu kita, jika Ia meminta kita untuk membayar semua yang pernah dia lakukan kepada kita. Tapi dia tidak melakukan itu, yang Beliau inginkan hanya satu, yaitu membuat kita sebagai anaknya bahagia. Jadi jangan lah kita menyakiti hati atau perasaan ibu kita, atau meminta bayaran terhadapa Ibu kita jika ibu kita memerintah kita untuk melakukan sesuat, ingatlah apa yang dilakukan oleh Ibu kita untuk kita adalah GRATIS.

Kisah inspiratif kakek penjual amplop

Kisah Inspirasi Mengharukan ini tentang seorang kakek yang berjuang mencari nafkah untuk bertahan hidup dengan menjual amplop surat . kisah mengharukan ini sipolos kutip dari beberapa sumber website, menurut sumber dari website yang saya kutip kisah ini pertama kali ditulis oleh seorang Dosen di ITB. Semoga Kisah Kakek Penjual Amplop yang mengharukan ini menjadi bahan renungan kita untuk selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki. berikut kisah yang dituliskan oleh pak dosen.

Setiap Saya menuju ke Masjid Salman ITB untuk melaksanakan shalat Jumat, saya selalu melihat seorang Kakek yang sudah cukup renta duduk di depan sebuah bungkusan plastik yang berisi kertas amplop. Ternyata kertas amplop tersebut adalah barang dagangannya. Sepintas barang dagangannya itu terasa aneh, karena pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha pada hari Jumat. Pedagang di tersebut umumnya adalah penjual makanan, DVD bajakan, pakaian, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang aksesoris lainnya. Tentu agak aneh dia nyempil sendiri menjual amplop kertas yang merupakan barang yang sudah tidak terlalu dibutuhkan pada zaman modern yang serba elektronik seperti sekarang. Masa ketenaran pengiriman surat secara konvensional melalui kantor pos sudah berlalu, namun Kakek tersebut tetap bertahan menjual amplop surat. Mungkin saja Kakek itu tidak mengikuti perkembangan zaman yang sekarang sudah serba teknologi informasi yang cepat dan instant, sehingga dia berfikir masih ada banyak orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.
Adanya Kakek tua dengan amplop surat dagangannya yang tidak laku-laku tersebut itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang ingin membeli amplopnya itu? Bahkan sangat jarang sekali orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membeli sebuah amplop. Lalu lalang orang orang yang bergerak menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan adanya Kakek tua itu.
Ketika hendak shalat Jumat di Salman lagi saya melihat Kakek tua itu lagi yang sedang duduk bersama dagangannya. Saya berkata dalam diri saya, saya akan membeli amplopnya itu setelah usai shalat, meskipun sebenarnya saya sedang tidak membutuhkan amplop tersebut. Saya membelinya sekedar ingin membantu Kakek tersebut melariskan dagangannya. Seusai saya shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri Kakek tersebut. Kemudian Saya tanya “berapa harga amplopnya dalam satu bungkus plastik itu” tanya Saya. “Seribu”, jawab kakek tersebut dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga dari sebungkus amplop dengan isi 10 lembar itu hanya dihargai seribu rupiah? Uang seribut itu hanya cukup untuk membeli 2 gorengan bala bala. Uang sebesar 1000 rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi sangatlah berarti bagi Kakek tua itu. Saya terdiam sesaat dan berusaha menahan air mata haru mendengar harga yang sangat murah tersebut. “Saya beli amplopnya 10 bungkus yah pak”, kata saya.
Kakek itu terlihat senang karena amplop dagangannya saya beli dalam jumlah yang cukup banyak. Dia memasukkan 10 bungkus amplop yang isinya 10 lembar per bungkusnya ke dalam sebuah bekas kotak amplop. Tangannya terlihat sedikit bergetar ketika memasukkan amplop ke dalam kotak.
Kemudian Saya kembali bertanya kepada si kakek kenapa dia menjual amplop tersebut dengan semurah itu. Padahal kalau kita beli amplop di warung harga peramplopnya tidak mungkin dapat 100 rupiah. Dengan uang 1000 rupiah mungkin kita hanya dapat 4 atau 5 amplop. Kemudian Kakek itu menunjukkan selembar kertas kwitansi kepada saya, kertas tersebut adalah kwitansi pembelian amplop dari toko grosir tempat kakek itu membeli dagangannya. Tertulis pada kwitansi tersebut nota pembelian untuk 10 bungkus amplop senilai Rp7500. “Kakek cuma ambil untung sedikit”, kata si kakek. Jadi, untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu si kakek hanya mengambil keuntungan Rp250. Mendengar jawaban jujur dari si Kakek itu, saya terharu dan prihatin. Jika pedagang lain yang nakal yang suka menipu harga dengan menaikkan harga jual agar keuntungan berlipat-lipat, Si Kakek itu dengan jujurnya menjual amplop tersebut dengan keuntungan yang tidak seberapa. Andaikan bisa terjual sepuluh bungkus amplop, berarti keuntungan yang diperoleh tidak sampai atau mampu untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapa juga orang yang akan mau membeli amplop dengan banyak pada zaman sekarang ini? Dalam sehari belum tentu si kakek itu laku menjual 10 bungkus, apalagi untuk menjual 20 bungkus amplop agar dapat mampu membeli nasi.
Setelah selesai bertanya saya lalu membayar 10.000 rupiah untuk membayar 10 bungkus amplop, Tidak lupa saya menyelipkan sedikit uang lebih kepada Kakek tua tersebut untuk membeli makan siang. Si Kakek tua menerimanya dengam tangan bergetar dan sambil mengucapkan terima kasih kepada saya dengan suara hampir menangis. Lalu saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata saya ini sudah tidak tahan untuk menahan air mata yang ingin keluar. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman difacebook yang kurang lebih seperti ini: “Kakek-Kakek tua menjajakan barang dagangannya yang tak laku-laku", "ibu-ibu tua yg duduk didepan warungnya yg selalu sepi"8. Ayo Carilah alasan – alasan untuk dapat membeli barang dagangan mereka, meskipun kita tidak terlalu membutuhkannya pada saat ini. Jangan selalu membeli barang barang yang kurang dibutuhkan di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap, sekali kali keluarkan sedikit rejeki kita untuk membeli sesuatu ke pedagang yang sudah tua dan renta….”
Si Kakek penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang sudah tua dan renta yang seharusnya sudah menikmati masa tuanya dirumah bermain sama cucu cucu mereka tetapi mereka sebaliknya masih tetap berjuang mencari nafkah untuk membeli makan untuk bertahan hidup dengan menjual barang barang yang kurang laku. Cara paling sederhana dan mudah untuk membantu mereka ialah bukan memberi mereka uang secara cuma cuma, tetapi belilah dagangan mereka atau gunakan jasa mereka. Meskipun misalkan barang yang di jual oleh mereka kurang dibutuhkan oleh kita atau sedikit lebih mahal dari pada harga di toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita sudah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.
Dalam pandangan saya Kakek tua itu lebih terhormat dari pada para pengemis yang berkeliaran di sekitar masjid Salman, meminta-minta kepada orang orang yang lewat. Para pengemis itu menyuruh atau mengerahkan anak-anak mereka untuk memancing iba orang -orang yang lewat. Tetapi berbeda dengan si Kakek penjual amplop tersebut, dia tidak mau mengemis, tetapi ia tetap teguh mencari uang halal dengan berjualan amplop walaupun keuntungannya tidak seberapa.
Sesampai dikantor saya amati kembali bungkusan amplop yang tadi saya beli dari si Kakek tua. Memang benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop tersebut saat ini, tetapi uang 10000 rupiah yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan bagi si Kakek tua.
Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Memang saat ini belum diperlukan oleh saya tapi siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat – jumat yang selanjutnya saya akan melihat si Kakek tua berjualan kembali di sana dan duduk melamun di depan dagangannya yang sepih pembeli.
Dari kisah inspisrasi mengharukan tentang kakek penjual amplop yang diceritakan / ditulis oleh pak dosen tersebut, semoga kita bisa belajar untuk bisa bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang. jangan mengeluh disaat kita sedang kesusahan, karena diluar sana masih banyak orang yang lebih susah dari kita. dan disaat kita memiliki rezeki yang lebih ada baiknya kita berbagi kepada orang – orang yang sedang membutuhkan. Memberi sedikit rezeki yang kita miliki tidak akan membuat kita jatuh miskin.

Friday, 5 February 2016

si miskin yang kaya hati



Bai fang li simiskin yang kaya hati

Alkisah tersebutlah seseorang bernama Bai Fang Li, orang miskin yang pekerjaannya adalah tukang becak. Seluruh hidupnya dihabiskan di atas sadel becaknya, mengayuh dan mengayuh untuk memberi jasanya kepada orang yang naik becaknya. Mengantarkan kemana saja pelanggannya menginginkannya, dengan imbalan uang sekedarnya.

Tubuhnya tidaklah perkasa. Perawakannya malah tergolong kecil untuk ukuran becaknya atau orang-orang yang menggunakan jasanya. Tetapi semangatnya luar biasa untuk bekerja. Mulai jam 6 pagi setelah melakukan rutinitasnya untuk bersekutu dengan Tuhan. Bai Fang Li melalang buana di jalanan, di atas becaknya untuk mengantar para pelanggan-pelanggan setianya. Dan ia akan mengakhiri kerja kerasnya setelah jam 8 malam.

Para pelanggannya sangat menyukai Bai Fang Li, karena ia pribadi yang ramah dan senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Dan ia tak pernah mematok berapa orang harus membayar jasanya. Namun karena kebaikan hatinya itu, banyak orang yang menggunakan jasanya membayar lebih. Mungkin karena tidak tega, melihat bagaimana tubuh yang kecil malah tergolong ringkih itu dengan nafas yang ngos-ngosan (apalagi kalau jalanan mulai menanjak) dan keringat bercucuran berusaha mengayuh becak tuanya.

Bai Fang Li tinggal disebuah gubuk reot yang nyaris sudah mau roboh, di daerah yang tergolong kumuh, bersama dengan banyak tukang becak lainnya, para penjual asongan dan pemulung.Gubuk itupun bukan miliknya, karena ia menyewanya secara harian. Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah tikar tua yang telah robek-robek dipojok-pojoknya, tempat dimana ia biasa merebahkan tubuh penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak.

‘’Gubuk itu hanya merupakan satu ruang kecil dimana Bai Fang Li biasa merebahkan tubuhnya beristirahat, di ruang itu juga ia menerima tamu yang butuh bantuannya, di ruang itu juga ada sebuah kotak dari kardus yang berisi beberapa baju tua miliknya dan sebuah selimut tipis tua yang telah bertambal-tambal. Ada sebuah piring seng comel yang mungkin diambilnya dari tempat sampah dimana biasa ia makan, ada sebuah tempat minum dari kaleng. Di pojok ruangan tergantung sebuah lampu templok minyak tanah, lampu yang biasa dinyalakan untuk menerangi kegelapan di gubuk tua itu bila malam telah tiba.

‘’Bai Fang Li tinggal sendirian di gubuknya. Dan orang hanya tahu bahwa ia seorang pendatang. Tak pernah ada yang tahu apakah ia mempunyai sanak saudara atau pun tidak. Tapi nampaknya ia tak pernah merasakan sendirian, banyak orang yang suka padanya, karena sifatnya yang murah hati dan suka menolong. Tangannya sangat ringan menolong orang yang membutuhkan bantuannya, dan itu dilakukannya dengan sukacita tanpa mengharapkan pujian atau imbalan

Dari penghasilan yang diperolehnya selama seharian mengayuh becaknya, sebenarnya ia mampu untuk mendapatkan makanan dan minuman yang layak untuk dirinya dan membeli pakaian yang cukup bagus untuk menggantikan baju tuanya yang hanya sepasang dan sepatu bututnya yang sudah tak layak dipakai karena telah robek. Namun dia tidak pernah melakukannya, karena semua uang hasil penghasilannya disumbangkannya kepada sebuah Yayasan sederhana yang biasa mengurusi dan menyantuni sekitar 300 anak-anak yatim piatu miskin di Tianjin. Yayasan yang juga mendidik anak-anak yatim piatu melalui sekolah yang ada.

Hatinya sangat tersentuh ketika suatu ketika ia baru beristirahat setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia menyaksikan seorang anak lelaki kurus berusia sekitar 6 tahun yang yang tengah menawarkan jasa untuk mengangkat barang seorang ibu yang baru berbelanja. Tubuh kecil itu nampak sempoyongan mengendong beban berat di pundaknya, namun terus dengan semangat melakukan tugasnya. Dan dengan kegembiraan yang sangat jelas terpancar di mukanya, ia menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan oleh ibu itu, dan dengan wajah menengadah ke langit bocah itu berguman, mungkin ia mengucapkan syukur pada Tuhan untuk rezeki yang diperolehnya hari itu.

Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja, dan menerima upah uang recehan. Kemudian ia lihat anak itu beranjak ke tempat sampah, mengais-ngais sampah, dan waktu menemukan sepotong roti kecil yang kotor, ia bersihkan kotoran itu, dan memasukkan roti itu ke mulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah itu makanan dari surga.

‘’Hati Bai Fang Li tersentuh melihat itu semua, dan ia hampiri anak lelaki itu, dan berbagi makanannya dengan anak lelaki itu. Ia heran, mengapa anak itu tak membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak, dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana.

“Uang yang saya dapat untuk makan adik-adik saya pak….,” jawab anak itu.
“Orang tuamu dimana…?” tanya Bai Fang Li.
“Saya tidak tahu, ayah dan ibu saya seorang pemulung…. Tapi sejak sebulan lalu setelah mereka pergi memulung, mereka tidak pernah pulang lagi. Saya harus bekerja untuk mencari makan untuk saya dan dua adik saya yang masih kecil…,” sahut anak itu.

‘’Bai Fang Li minta anak itu mengantarnya melihat ke dua adik anak lelaki bernama Wang Ming itu. Hati Bai Fang Li semakin merintih melihat kedua adik Wang Fing, dua anak perempuan kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua anak perempuan itu nampak menyedihkan sekali, kurus, kotor dengan pakaian yang compang camping.

‘’Bai Fang Li tidak menyalahkan kalau tetangga ketiga anak itu tidak terlalu perduli dengan situasi dan keadaan ketiga anak kecil yang tidak berdaya itu, karena memang mereka juga terbelit dalam kemiskinan yang sangat parah, jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus diri mereka sendiri dan keluarga mereka saja mereka kesulitan.

‘’Bai Fang Li kemudian membawa ke tiga anak itu ke Yayasan yang biasa menampung anak yatim piatu miskin di Tianjin. Pada pengurus yayasan itu Bai Fang Li mengatakan bahwa ia setiap hari akan mengantarkan semua penghasilannya untuk membantu anak-anak miskin itu agar mereka mendapatkan makanan dan minuman yang layak dan mendapatkan perawatan dan pendidikan yang layak.

Sejak saat itulah Bai Fang Li menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya mulai jam 6 pagi sampai jam 8 malam dengan penuh semangat untuk mendapatkan uang. Dan seluruh uang penghasilannya setelah dipotong sewa gubuknya dan membeli dua potong kue kismis untuk makan siangnya dan sepotong kecil daging dan sebutir telur untuk makan malamnya, seluruhnya ia sumbangkan ke Yayasan yatim piatu itu. Untuk sahabat-sahabat kecilnya yang kekurangan.

Ia merasa sangat bahagia sekali melakukan semua itu, ditengah kesederhanaan dan keterbatasan dirinya. Merupakan kemewahan luar biasa bila ia beruntung mendapatkan pakaian rombeng yang masih cukup layak untuk dikenakan di tempat pembuangan sampah. Hanya perlu menjahit sedikit yang tergoyak dengan kain yang berbeda warna. Mhmm… tapi masih cukup bagus… gumamnya senang.

Bai Fang Li mengayuh becak tuanya selama 365 hari setahun, tanpa perduli dengan cuaca yang silih berganti, di tengah badai salju turun yang membekukan tubuhnya atau dalam panas matahari yang sangat menyengat membakar tubuh kurusnya.

Banyak orang-orang menanyakan mengapa ia mau berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa perduli dengan dirinya sendiri. “Tidak apa-apa saya menderita, yang penting biarlah anak-anak yang miskin itu dapat makanan yang layak dan dapat bersekolah. Dan saya bahagia melakukan semua ini…,”

Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, sehingga hampir 20 tahun Bai Fang Li menggenjot becaknya demi memperoleh uang untuk menambah donasinya pada yayasan yatim piatu di Tianjin itu. Saat berusia 90 tahun, dia mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar RMB 500 (sekitar 650 ribu rupiah) yang disimpannya dengan rapih dalam suatu kotak dan menyerahkannnya ke sekolah Yao Hua.

Bai Fang Li berkata “Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya sumbangkan,,” katanya dengan sendu.Semua guru di sekolah itu pun menangis….

Bai Fang Li wafat pada usia 93 tahun, ia meninggal dalam kemiskinan. Sekalipun begitu, dia telah menyumbangkan disepanjang hidupnya uang sebesar RMB 350.000 (kurs 1300, setara 455 juta rupiah, jika tidak salah) yang dia berikan kepada Yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah di Tianjin untuk menolong kurang lebih 300 anak-anak miskin.

Foto terakhir yang orang punya mengenai dirinya adalah sebuah foto dirinya yang bertuliskan ”Sebuah Cinta yang istimewa untuk seseorang yang luar biasa”.

‘’Bai fang li si miskin tapi kaya hati’’

bila seseorang yang miskin menyumbang dari kekurangannya, maka ia adalah salah satu penghuni surga yang diutus ke dunia, yang mengajarkan kita untuk selalu bersyukur dan selalu berbagi kepada sesama.
‘’Kisah ini di ambil dari berbagai sumber’’

kisah inspiratif dua sahabat



Alkisah ada  2 orang sahabat yang terpisah cukup lama,namanya ahmad dan Zainal. Ahmad ini pintar, cerdas, tapi kurang beruntung secara ekonomi. Sedangkan Zainal adalah sahabat yang biasa saja, tapi keadaan orang tuanya mendukung karir untuk masa depannya.
Keduanya Bertemu di tempat istimewa,yakni di temp mengambil air wudhu, di toilet sebuah masjid megah dengan arsitektur yang cantik, pemandangan pegunungan dengan kebun teh yang terhampar hijau di bawahnya. Sungguh indah dan sangat mempesona.
 

Zainal, sudah menjelma menjadi seorang manager kelas menengah, necis, perlente, dan ber penampilan  elite,tapi tetap menjaga kesholihannya. Setiap keluar kota, ia menyempatkan singgah di masjid kota yang ia singgahi. Untuk memperbaharui wudhu dan sujud syukur. Syukur masih mendapat waktu yang diperbolehkan shalat sunnah, maka ia shalat sunnah sebagai tambahan.

setibanya Ia di Puncak  Bogor,  ia pun mencari masjid,Sembari menepikan mobilnya, dan bergegas masuk ke masjid yang ia temukan.
Di sanalah ia bertemu Ahmad. Dengan Terperangah dan kaget. Ia tahu sahabatnya ini meski berasal dari keluarga tak berada, tapi pintar luar biasa.
Zainal tak sangka bila berpuluh tahun kemudian ia temukan Ahmad sebagai marbot masjid.

“Maaf, kamu Ahmad bukan yah? Ahmad yang teman  Sekolah Menengah ku dulu?”.
Yang disapa pun tak mau kalah mengenalinya.akhirnya  Keduanya pun berpelukan.
“Keren sekali kamu ya Mas…sungguh  Mantap dan luar biasa penampilanmu…”. Zainal terlihat masih dalam keadaan berdasi. Lengan bajunya pun digulung untuk persiapan wudhu, menyebabkan jam tangan ber-merk yang di kenakannya terlihat oleh Ahmad. “Ah, biasa saja…”.sahut zainal

Zainal menaruh iba dengan keadaan ahmad yang sekarang. Ahmad dilihatnya sedang memegang kain pel, khas marbot. Celana digulung, dan peci 8 dongak hingga jidat lebar terilhat jelas.

“Mad… Ini kartu nama saya…”.
Ahmad pun meliha nya. Sambil berujar“Manager Area yah…”. Wah, keren dong kamu sekarang!!!
sambil tersenyum zainal pun berkata kepada ahmad....’’Mad, selepas saya shalat nanti kita bincang-bincang  ya? Maaf, itupun kalau kamu berminat, di kantor saya ada pekerjaan yang lebih baik dari sekedar marbot di masjid ini loh. Maaf ya…”.
Ahmad tersenyum. Ia mengangguk. “Terima kasih ya…sahut ahmad’’ Nanti kita berbincang setelah selesai ini.

Sambil ber wudhu pun, Zainal trus berfikir,,’’ Mengapa Ahmad yang pintar, kemudian harus terlempar dari kehidupan normal. Ya, meskipun tak ada yang salah dengan pekerjaan sebagai marbot, tapi marbot… ah, pikirannya tidak mampu membenarkan. Zainal menyesalkan kondisi negeri ini yang tak berpihak kepada orang yang sebenarnya memiliki talenta dan kecerdasan, namun miskin.

Air wudhu membasahi wajah… Sekali lagi Zainal melewati Ahmad yang sedang bebersih. Andai saja Ahmad mengerjakan pekerjaan ini di perkantoran, maka sebutannya bukan marbot. Melainkan “Office Boy”.

Tanpa sadar, ada yang shalat di belakang Zainal. Tampaknya sedang shalat sunnah.gumam dalam hati zainal.
Zainal sempat melirik. “Barangkali ini kawannya Ahmad kali yah…”.
Zainal menyelesaikan doa secara singkat, karena ingin segera bincang-bincang dengan Ahmad teman lamanya
“Pak”, tiba-tiba anak muda yang shalat di belakangnya menegur.
“Iya Mas..’’jawab zainal
“Bapak kenal dengan bapak Insinyur Haji Ahmad yah…?”
“Insinyur Haji Ahmad…?”
“Ya, insinyur Haji Ahmad…”kata pemuda itu menimpali ucapan zainal
“Insinyur Haji Ahmad yang mana…?”tanya zainal
“Itu, yang barusan bincang dengan Bapak…”
“Ohh… Ahmad… Iya saya Kenal. Itu teman saya dulu waktu di SMP.ohh jadi dia Sudah haji?”tanya zainal.
“Dari dulu memang sudah haji Pak. Dari sebelum beliau bangun masjid ini…”.
Kalimat datar yang cukup menampar hati Zainal… sudah haji… dari sebelum bangun masjid ini…dalam hati zainal sedikit terenyuh..

Anak muda tersebut menambahkan, “Beliau orang hebat Pak. Tawadhu’. Saya lah merbot asli di masjid ini. Saya karyawan beliau. Beliau yang membangun masjid ini. Di atas tanah wakaf pribadi. Beliau bangun masjid indah ini sebagai transit bagi siapapun yang hendak shalat. Coba Bapak lihat mall megah di bawah sana? Itu Juga hotel indah di seberangnya? … Itu semua milik beliau pak... Tapi beliau lebih suka menghabiskan waktunya di sini. Bahkan salah satu kesukaannya yang aneh,suka menggantikan posisi saya.
Karena suara saya bagus, kadang saya diminta mengaji dan azan saja…”.
Wah, entah apa yang ada di hati dan di pikiran Zainal…seperti mengembara
*****
Jika Zainal adalah kita, mungkin saat bertemu kawan lama yang sedang bersihkan toilet, segera beritahu posisi kita, siapa kita yang sebenarnya.

Atau jika kita adalah Ahmad, kawan lama menyangka kita merbot masjid, kita akan menyangkal, lalu menjelaskan secara detail begini dan begitu. Sehingga tahulah bahwa kita adalah pewakaf dan yang membangun masjid. ng yang menyembunyikan kebaikannya, seperti ia menyembunyikan keburukannya.

dari kisah teladan di atas kita bisa mengambil pelajaran/hikmah dari keduanya
janganlah kita marasa diri paling tinggi dan sempuna jikalau kita  melihat ada orang lebih rendah penampilannya di banding kita,karena siapa tahu ia lebih tinggi dan lebih mulia derajatnya dari kita

Sumber: https://www.facebook.com/KomunitasOneDayOneJuz/posts/10153732189042785

Thursday, 4 February 2016

kisah inspiratif allah maha tahu dari hamba2nya



Allah lebih tahu dari hamba2nya

Suatu hari, sebelum pulang kantor, sang suami menelpon istrinya, "sayang, alhamdulillah, bonus akhir tahun dari perusahaan sudah turun, Rp. 150 juta." Dibalik telpon, sang istri tentu saja mengungkapkan rasa syukurnya, "Alhamdulillah, semoga berkah ya mas".

Sejak beberapa bulan yang lalu mereka sudah merencanakan membeli mobil sederhana untuk keluarga kecilnya. Dan uang bonus yang cair kali ini, mereka rasa cukup pas untuk membeli mobil sesuai budget.
Namun dalam perjalanan pulang, dia ditelpon oleh ibunya di kampung, "Nak, kamu ada tabungan tidak? Tadi ada orang datang ke rumah. Ternyata almarhum ayahmu punya hutang ke dia cukup besar, Rp. Yaitu sebesar 50 juta." Tanpa pikir panjang, ia pun bilang ke ibunya, "Iya, Bu, insyaAllah ada." Dia berpikir, "Nggak apa-apa lah, masih cukup untuk beli mobil yang 100 jutaan, mungkin ini masih lebih baik."

Dia pun melanjutkan perjalanan. Belum tiba di rumah, Ponselnya kembali berdering. Seorang sahabat karibnya tiba-tiba menghubunginya sambil menangis. Sahabatnya itu sambil terbata-bata mengabarkan bahwa anaknya harus segera dioperasi minggu ini. Banyak biaya yang tidak bisa dicover oleh asuransi kesehatan dari pemerintah. Tagihan dari rumah sakit  sekitar Rp. 80 juta.

Lalu dia berpikir sejenak. Uang bonusnya tinggal 100 juta. Jika ini diberikan kepada sahabatnya, maka tahun ini ia gagal membeli mobil impiannya. Tapi nuraninya mengetuk, "Berikan padanya. Mungkin ini memang jalan Allah untuk menolong sahabatmu itu. Mungkin ini memang rezekinya yang datang melalui perantara dirimu." Ia pun menuruti panggilan nuraninya.

Setibanya di rumah, dia menemui istrinya dengan wajah yang lesu. Sang istri bertanya, "Kenapa, mas?’’ Ada masalah?’’ Nggak seperti biasanya pulang kantor murung gini?" Sang suami mengambil napas panjang, "Tadi ibu di kampung telpon, butuh 50 juta untuk bayar utang almarhum bapak. Nggak lama, sahabat abang juga telpon, butuh 80 juta untuk biaya operasi anaknya. Uang kita tinggal 20 juta. Maaf ya mah, tahun ini kita tidak jadi beli mobil dulu."
Sang istri pun tersenyum, "Aduh, mas, kirain ada masalah apaan. Mas, uang kita yang sebenarnya bukan yang 20 juta itu, tapi yang 130 juta. Uang yang kita infakkan kepada orang tua kita, kepada sahabat kita, itulah harta kita yang sesungguhnya. Yang akan kita bawa menghadap Allah, yang tidak mungkin bisa hilang jika kita ikhlas. Sedangkan yang 20 juta di rekening itu, masih belum jelas, benaran harta kita atau akan menjadi milik orang lain."

Sang istri pun memegang tangan suaminya, "Mas, insyaAllah ini yg terbaik buat kita. Bisa jadi jika kita beli mobil saat ini, justru menjadi keburukan bagi kita. Bisa jadi musibah besar justru datang ketika mobil itu hadir saat ini. Maka mari berbaik sangka kepada Allah, karena kita hanya tahu yang kita inginkan, sementara Allah-lah yang lebih tahu segalanya apa yang kita butuhkan